Nisan Tamil di Langkat: Bukti Keberadaan Orang India di Sumatera Utara

 

Orang Tamil di Sumatera Timur

Pada abad ke 19 Masehi, perkebunan Tembakau Deli telah menciptakan komunitas perkebunan yang heterogen dengan memisahkan status sosial dan ras. Misalnya dalam urusan perkerjaan staf-staf Eropa menduduki lapisan teratas, kemudian orang Indis dan orang Asia terpelajar sebagai pegawai non-staf, kemudian pengawas kuli atau mandor, dan terakhir kuli-kuli kotan yang menjadi lapisan terbawah.

Kuli-kuli kontrak dipekerjakan secara terpisah. Kuli Cina kebanyakan dipekerjakan sebagai kuli ladang, mulai dari menanam, hingga memanen hasil tembakau. Kuli Jawa dipekerjakan sebagai orang yang menyiapkan lahan. Sedangkan kuli Tamil khusus dipekerjakan untuk membangun jalan, menggali kanal, dan juga sebagai kusir pedati.

Sekitar bulan Oktober hingga Januari, kuli Tamil bekerja sebagai pembuat jalan dan kusir pedati. Mereka mengangkut hasil panen hilir mudik untuk mengantarkan hasil panen. Pada saat itu, sungai merupakan jalur utama untuk membawa hasil-hasil panen ke labuhan untuk di kirim ke luar negri. Pada tahun 1883, barulah Deli Spoorweg Maatschappij mulai membangun jalur kereta api untuk mengangkut hasil panen. Sampai akhir dekade pertama yakni awal abad 20, jalur kereta api mencapai panjang kurang lebih 263 km yang menghubungkan perkebunan Deli, Langkat, Serdang, Padang, dan Bedagai.  Setelah tersedianya jalur kereta api, kuli-kuli tamil hanya perlu mengangkut bal-bal tembakau ke stasiun kemudian diangkut ke tempat tujuan.

        


Bal tembakau diturunkan dari kereta lembu                                                                                                             

Pada 1880, pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan Kooeli ordonantie untuk penetapan jam kerja sehari. Namun pada kenyataanya, kuli Tamil justru bekerja melebihi waktu yang telah di tetapkan. Kerja lembur yang dialami oleh kuli Tamil di lakukan pada istirahat siang yakni jam  dua sebelas hingga jam satu siang. Jika sampai jam enam sore pekerjaan harian belum selesai maka kuli Tamil tidak diperbolehkan untuk kembali pulang. Meskipun lembur, dan bekerja lebih dari sepuluh jam dalam sehari, mereka hanya menerima 6 hingga 7 dolar perbulan.

Tidak hanya gaji yang minim, tuan kebun juga sering memotong sebagian dari upah kuli Tamil untuk melunasi uang panjar yang mereka terima saat di kontrak. Tidak hanya itu, tuan kebun juga menyita sebagian upah untuk membayar harga tikar, bantal, tempat tidur, dan peralatan bekerja yang mereka terima saat baru masuk di perkebunan. Bahkan obat-obatan dan biaya tempat tinggal juga dipungut dari upah kuli.

Pada saat itu, perjudian digelar oleh tuan kebun pada masa lumbung untuk mendorong kuli menggunakan uang lebih banyak dari pada bulan sebelumnya, juga sebagai perangkap untuk melilit hutang. Dengan cara itu kuli-kuli harus tetap bertahan untuk  menerima kontrak baru dan tuan kebun di untungkan karena tidak  merekrut kuli-kuli baru dari daerah asalnya yang biayanya jauh lebih mahal.

Keberhasilan perkebunan Tembakau Deli membawa kemashyuran bagi tanah Deli yang tersebar di dalam maupun diluar Nusantara.  Berbagai aktivitas yang turut mengembangkan perkebunan Deli tersebar di berbagai kota di Sumatera Timur seperti Binjai (Langkat), Tebing Tinggi (Deli Serdang), Pematang Siantar (Simalungun), Rantau Perapat (Labuhan Batu), dan lain sebagainya.

Kuala Sebagai Kota Lama Masa Kolonial

Secara administratif, saat ini Kuala merupakan nama dari sebuah kecamatan yang  berada di Kabupaten Langkat. Kecamatan Kuala terletak di bagian Hulu Kabupaten Langkat. Kecamatan Kuala berbatasan langsug dengan Kecamatan Selese dan Kecamatan Salapian. Kawasan Kuala mulai dibuka pada abad 19 M. Penamaan Kuala di dasarkan pada sebuah tempat bertemunya sungai sungai yaitu sungai Tembo, sungai Gumit, dan sungai Penjara. Penduduk asli wilayah ini adalah etnis Karo yang kemudian dikembankan oleh suku Melayu dan Minangkabau.

Pada masa pemerintahan Kesultanan Langkat, Kuala berkembang menjadi sebuah distrik karena adanya perkebunan besar yang dinamakan dengan perkebunan Bekiun dan Belangkahan. Perkembunan ini merupakan perkebunan tembakau yang menjadi komoditi  dari wilayah Sumatera Timur. Tembakau yang di produksi dari Deli membentang dari Langkat, Deli, hingga Serdang. Pertentangan terjadi saat awal terbukanya perkebunan tembakau di  buka di wilayah Kuala ini. Penduduk asli tidak menerima kedatangan pada tuan kebun karena mereka mengidentikan Belanda dengan penjajah. Oleh sebab itu, didatangkan kuli-kuli yang berasal dari luar daerah kuala. Pekerja tersebut di datangkan dari Cina, Jawa, dan India.

 Temuan Nisan Beraksara Tamil

Dari hasil penelitian yang dilakukan, terdapat  temuan beberapa nisan beraksara Tamil. Nisan-nisan berkasara Tamil ini terletak di sebuah komplek pemakaman umum tepatnya di Kecamatan Kuala, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Dalam komplek pemakaman muslim ini terdapat 8 buah nisan beraksara Tamil. Lima nisan dibagian Timur komplek pemakaman, sedangkan tiga di bagian Barat komplek pemakaman.

Menurut hasil wawancara dengan narasumber, keberadaan nisan-nisan beraksara Tamil ada dalam jumlah yang relatif banyak bahkan di perkirakan lebih dari sepuluh buah. Namun, diperkirakan karena keturunan mereka sudah bukan orang Tamil asli, maka mereka mengganti nisan tersebut dengan bahasa Indonesia. Sehingga hanya tersisa delapan buah nisan beraksara Tamil di area pemakaman ini.

Nisan-nisan beraksara Tamil ini umumnya memiliki ciri dan bentuk yang sama dengan nisan dan makam lainnya yang ada di komplek pemakaman tersebut. Tetapi, ada beberapa keunikan yang ditemukan pada nisan beraksara Tamil ini. Pertama, makam dibuat bertingkat tiga dengan bahan semen dan batu krikil. Kedua, letak kepala makam berada di posisi Selatan. Sedangkan makam-makam lain yang ada di komplek tersebut letak kepalanya berada di bagian Utara. Ketiga, nisan dan makam ini menggunakan aksara Tamil.

Dari delapan nisan dan makam beraksara Tamil yang di temukan di komplek pemakaman ini, hanya tersisa tiga buah nisan yang masih dapat terbaca dengan jelas. Ketiga nisan tersebut berada di bagian Timur komplek pemakaman. dan dua nisan makam lainnya hanya menyisakan nama yang di tulis pada nisan tersebut. Sedangkan tiga nisan di bagian Barat, tidak dapat terbaca. Tetapi diketahui bahwa nisan dan makam tersebut merupakan makam orang Tamil karena dilihat dari keunikan bentuk yang sama dengan nisan Tamil lainnya yang berada di bagian Timur komplek pemakaman ini.

Nisan-nisan yang ada di komplek ini menjadi salah satu bukti bahwa adanya jejak orang Tamil yang tinggal di Sumatera utara. Terlebih, komplek pemakaman ini hanya berjarak sekitar 1 km dari Kota lama Kuala yang merupakan salah satu kota penting pada masa Kolonial. Maka, tidak di herankan lagi bahwa ditemukannya makam orang tamil di kawasan ini.

Inskripsi Pada Nisan Tamil

Secara umum, inskripsi yang tertulis pasa nisan beraksara Tamil menjelaskan tentang nama, dan tanggal orang tersebut wafat. Berikut ini penjelasan inskripsi yang tertulis pada nisa beraksana Tamil.

Nisan 1

   


~ U (Pillayar Suzhi) (Simbol yang mewakili Dewa Vinaayaka atau Simbol suci Tamil untuk memulai sebuah tulisan)

~ சிவமயம் (Sivamayam) berpulang ke Siwa

~ பொ. சு. பபையா பிள்ளை (Po.Su. Papaiya Pillai) (Nama orang yang di makamkan)

~ அவர்கள் (Avarkal) (Beliau) 31.8.1944 (Tanggal, bulan, dan taun wafat)

~சிவலோக பதவி அடைந்தார் (Sivaloga pathavi adainthaar) (Mencapai posisi ke alam Siva)

Nisan 2

                  

~ உ U (Pillayar Suzhi) (Simbol yang mewakili Dewa Vinaayaka atau Simbol suci Tamil untuk memulai sebuah tulisan)

~ ஷ. ராமசாமி (Sha. Ramasamy) (Nama orang yang dimakamkan)

~ ஆங்கிலம்(Ankilam)  (Inggris) kata inggris mengacu pada pengertian penggunaan alphabet inggris untuk menuliskan tanggal 8.5.1985

~திங்கள் (Thinkal) (Senin)

~  கிழமை (Kilamai) (Hari)

Nisan 3

                   


~ உ U (Pillayar Suzhi) (Simbol yang mewakili Dewa Vinaayaka atau Simbol suci Tamil untuk memulai sebuah tulisan)

~ கு. செங்கல்ராயர் (KU. Senkalrayar) (Nama orang yang di makamkan)

~மறைவு (Maraivu) (Berpulang)

~ 16.4.1965

 

Nisan 4



~ ditulis dalam bahasa Indonesia

~ Munusami (Nama Orang yang di makamkan)

~ 8.12.1976 (Tanggal wafat)

Nisan 5



~ ditulis dalam bahasa Indonesia

~ Manuwelu (Nama orang yang di makamkan)

~ 3.4.1959 (Tahun wafat)

 

Nisan 6, 7, dan 8

~ ketiga Nisan yang terletak di bagian barat komplek pemakaman  ini tidak memiliki inskripsi. Namun dapat di pastikan bahwa ini merupakan makam orang Tamil karena memiliki kesamaan dengan lima makam Tamil lainnya yang terletak di bagian Timur komplek pemakaman.

 

KESIMPULAN

Makam Tamil di Kabupaten Langkat ini juga menjadi salah satu bukti atas kehadiran orang-orang Tamil di Sumatera Utara khususnya Langkat. Adanya temuan beberapa makam orang Tamil disini menunjukan bukti bahwa pernah ada kelompok Tamil yang bermukim di daerah tersebut. Berdasarkan temuan-temuan yang ada di lapangan, terdapat beberapa tafsir mengenai nisan-nisan beraksara Tamil yang ada di komplek pemakaman umum muslim di Kecamatan Kuala Kabupaten Langkat ini.

Pertama, nisan tersebut merupakan makam orang Tamil yang beragama Hindu. Meskin letak nya berada di komplek pemakaman Muslim, pemakaian simbol-simbol agama Hindu seperti “Pillayar Suzhi” menjadi petunjuk bahwa yang di makamkan adalah orang yang beragama Hindu. Selain itu letak kepala yang berada dibagian Utara juga menjadi pembeda dengan makam-makam Muslim yang ada di komplek pemakaman tersebut.

Kedua, kecil kemungkinan bahwa orang yang di makamkan beragama Islam. Hanya karena letaknya yang berada di komplek pemakaman Muslim, tidak bisa menjadi dasar yang kuat untuk mengatakan bahwa makam tersebut adalah makam orang Islam. Pada umumnya, proses pemakaman orang yang beragama Hindu adalah dengan cara kremasi atau di bakar yang kemudian abu jasadnya di simpan atau di alirkan ke sungai yang di anggap suci. Maka pertanyaan yang muncul adalah apakah orang yang di makamkan di makam-makam ini benar-benar orang yang memeluk agama Hindu atau tidak, mengingat orang-orang Tamil yang datang ke kawasan ini bukan hanya beragama Hindu saja, tetapi ada juga yang beragama Islam. Untuk itu, di perlukan penelitian lebih lanjut mengenai makam-makam beraksana Tamil di komplek pemakaman ini. Makam Tamil di Kabupaten Langkat ini juga menjadi salah satu bukti atas kehadiran orang-orang Tamil di Sumatera Utara khususnya Langkat.

 

Penulis,

Ning Arrumdani

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerita Pengalaman Perjalanan Pertama ke India

4 HAL YANG HARUS KAMU PERSIAPKAN SEBELUM KE INDIA